Cara Membuat Kue Enak Tapi Sehat

Pada suatu masa, seorang teman bertanya kepadaku apakah aku bisa membuatkan kue yang sehat untuknya. Setelah berpikir sesaat aku menjawab bahwa yang aku bisa lakukan adalah membuatkan kue yang enak untuknya. Aku sengaja tidak mengiyakan atau menidakkan prasyarat sehat dalam permintaannya, karena harus jelas dulu kriteria kue sehat itu sebenarnya kue yang bagaimana?

Choco Bear Brownies CakefeverMungkin tergantung pertimbangan masing-masing individu sehingga masing-masing memiliki kriterianya sendiri tentang kue sehat. Ada yang merasa harus mengurangi konsumsi gula sehingga menghindari kue dengan jumlah gula yang banyak atau mengganti penggunaan gula biasa dengan gula rendah kalori. Ada juga yang merasa harus mengurangi penggunaan margarin, atau seperti bahan pengembang kue atau pewarna kue.

Kalau aku sendiri, yang benar-benar aku upayakan hindari ataupun kurangi adalah penggunaan karena aku seringkali bisa merasakan jejak rasa “aneh” dari penggunaan tersebut. Dan aku tidak suka rasa itu sehingga sebenarnya tanpa benar-benar menghayati apa efek kesehatan dari tersebut, aku secara sadar mengurangi dan bahkan menghindari Food Additives.

Apa itu Food Additives? Food additives adalah bahan sintetis yang ditambahkan ke dalam makanan-minuman untuk mendapatkan cita rasa tertentu. Contohnya: esens, bahan pengembang sintetis, pewarna sintetis, bahan pengawet sintetis dan lain sebagainya.

Untuk esens, terkadang bila bahan perasa utama masih kurang kuat rasa dan aromanya, aku masih menambahkan sedikit esens. Sementara untuk bahan pengembang kue kalau masih bisa dihindari akan aku hindari sebisa mungkin. Karena untuk membuat kue mengembang masih bisa menggunakan cara lain yaitu dengan cara mengocok telur yang baik dan benar. Tapi memang ada beberapa resep yang agak sulit menghindari pengembang, karena tekstur lembut, ringan dan halus yang biasanya ada di jenis kue-kue tertentu memang hanya bisa disempurnakan dengan menggunakan food additives tertentu seperti baking soda, baking powder, emulsifier dll.

Untuk pengembangan kue secara alami masih bisa diakali dengan metode kocok dan aduk yang benar. Yang penting adalah mengetahui cara mengocok telur dan mengaduk adonan yang benar agar kue bisa tetap mengembang tanpa bahan tambahan. Cara mengocok telur agar bisa mengembangkan kue, adalah sebagai berikut:

Baca Juga:  Raibnya Brownies Kami - season 2

Kocok telur dan gula dengan mikser kecepatan paling tinggi hingga mengembang dan kaku. Patokannya adalah ketika mikser dimatikan dan diangkat dari dalam adonan, maka penampakan adonan sbb:

  • Adonan tertahan pada putaran mikser dan tidak mengalir,
  • Ketika mikser diangkat , bagian ujung adonan terlihat lancip,
  • Dan juga ketika adonan jatuh akan terlihat menumpuk membentuk jejak (seperti rumah keong) – tidak langsung hilang dan rata. Setelah mencapai tahap ini, hentikan mengocok adonan. Jika tidak, bagian “busa” adonan dan cairan atas akan terpisah, sehingga cake sulit mengembang dengan baik.

Setelah telur dan gula dikocok sampai kental dan kaku, langkah berikutnya adalah mencampurkan tepung dll. Teknik mengaduk yang benar:

  • Gunakan spatula besar (usahakan seukuran telapak tangan) untuk mengaduk adonan. Jika sulit mendapatkannya, bisa menggunakan centong rice cooker atau sendok nasi.
  • Aduk lipat. Aduk dengan gerakan melingkar sampai ke dasar, spatula menghadap ke atas. Cara ini meminimalkan terlepasnya udara yang sudah tersekap dalam adonan, sehingga cake tanpa bahan pengembang sintetis akan bisa mengembang dengan sempurna ketika dipanggang dalam oven atau dikukus.

Nah dengan mengetahui cara mengocok dan mengaduk adonan yang benar, biasanya kue akan tetap bisa mengembang indah walau tanpa bahan pengembang tambahan. Cara mengocok dan mengaduk adonan juga bisa dibaca di artikelku di sini

Oreo Cheese Cake CakefeverSelain menghindari food additives yang bertujuan untuk memperbaiki struktur dan tekstur, aku juga menghindari penggunaan pewarna makanan. Pewarna makanan terutama yang dari merek ternama atau pun merek yang sudah memiliki izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, sebenarnya memang masih tergolong aman untuk dikonsumsi. Tapi ini memang soal preferensi pribadi atau pilihan individu saja. Aku suka degdegan kalau makan kue yang berwarna-warni tanpa warna-warna tersebut merepresentasikan rasa. Maksudku, kalau warna merah dari kue itu muncul sebagai efek dari penggunaan buah strawberry dalam adonannya, maka itu buatku oke. Kalau warna itu benar-benar berupa warna dari hasil pewarnaan adonan saja dan ditujukan untuk keindahan saja, nah itu yang aku tidak mau lakukan.

Baca Juga:  Raibnya Brownies Kami

Untuk gula, aku sebenarnya lebih memilih menggunakan gula pasir biasa atau gula kelapa atau gula aren atau campuran keduanya daripada harus menggunakan pemanis buatan. Alasan utamaku, karena rasa manisnya menurutku meninggalkan after taste pahit yang buatku mengganggu. Jadi aku bersiteguh dengan gula biasa. Alasan berikutnya adalah aku merasa lebih baik aku mengurangi jumlah kue yang aku makan daripada aku mengurangi gula atau mengganti dengan pemanis buatan yang menurutku lebih tidak alami. Lebih baik makan kue yang enak tapi sedikit daripada makan kue banyak tapi tidak sesuai seleraku 😀

Untuk margarin dan butter, aku memilih untuk sedapat mungkin menggunakan butter sebenarnya karena kue memang akan lebih lembut dibanding pakai margarin dan aku suka aroma butter yang enak itu. Tulisanku tentang Margarin dan Butter bisa dibaca di sini. Di tulisanku itu aku tidak membahas detail soal mana yang lebih sehat margarin atau butter karena aku gak kompeten soal ini. Oleh karena itu aku copykan saja ya penjelasan dari Pak Wied Harry tentang beda margarin dan butter dari sisi kesehatan.

Margarin terbuat dari minyak goreng (cair) yang dipadatkan, sehingga bentuknya menjadi plastis alias mudah dioleskan. Proses pemadatan minyak goreng menjadi margarin ini membuat kandungan utama lemak jenuhnya berubah menjadi lemak trans yang jahat dan mudah menaikkan kadar trigliserida darah – yang berkaitan dengan melonjaknya risiko stroke dan serangan jantung. Minyak goreng dan mentega (butter) mengandung lemak jenuh. Meskipun berpotensi menaikkan kadar lemak darah, terutama kolesterol, pengaruhnya tidak sebesar margarin – asal tidak dikonsumsi berlebihan. Karena itu, lebih disarankan menggunakan minyak goreng atau mentega (butter) sebagai sumber lemak dalam adonan cake.

Kebaikan dari membuat kue sendiri adalah kita mengetahui persis bahan apa saja yang dimasukkan ke dalam kue yang kita buat, sehingga kita bisa mengatur apa yang ingin kita konsumsi dan apa yang kita hindari. Saat membaca resep, kita bisa melihat satu per satu bahan yang disebutkan dan pelan-pelan mulai mempelajari manfaat dan efek samping (bila ada) dari penggunaan bahan tersebut.

Baca Juga:  Antara Baking-Blue & Blogging-Blue

Nah, sebagai penyuka kue enak dan tidak ingin mengurangi enaknya suatu kue dengan substitusi bahan, aku akhirnya berpikir bahwa apapun pilihan bahan pembuat kue, yang paling penting adalah menahan diri untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi satu jenis makanan selama selang waktu berturutan. Jangan makan berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, begitu nasehat mamaku selalu. Karena itu daripada mengganti mengganti atau mengurangi bahan yang akan mempengaruhi rasa kue buatanku, lebih baik aku menahan diri untuk tidak langsung menghabiskan satu loyang kue lezat buatanku itu hehehe … Kembali ke prinsip di awal, yaitu:

Lebih baik makan kue yang enak tapi sedikit daripada makan kue banyak tapi tidak sesuai seleraku 😀

Artikel Lainnya:

%d bloggers like this: