Monday, May 23

Cara Menghitung Harga Jual Kue Rumahan

Sudah bisa membuat kue yang enak? Sudah dapat pujian dari keluarga, sodara dan tetangga? Kalau begitu, mari kita mencoba berjualan kue!

Biarpun cuma bisa bikin satu kue yang enak, tetap PeDe untuk jualan donk! Roti Boy aja juga cuma punya satu jenis di gerainya. Jadi tidak perlu harus menguasai puluhan resep kue-enak hanya untuk berjualan. Cuma bisa bikin satu macam kue aja? ya ndak pa-pa, jual saja kue andalan kita itu. Aku pun dulu baru saja bisa bikin Blueberry Cheese Cake, langsung jualan hehehe.

Kalau mau jualan kue, tentunya kita harus bisa menetapkan harga jual kue kita. Aku akan share cara sederhana menentukan harga jual kue yang akan kita pasarkan. Karena masih skala bakul kue rumahan, perhitungan ini bisa jadi tidak terlalu detail. Contohnya: dalam melakukan pembuatan kue misalnya kita masih menggabungkan penggunaan listrik, air dan gas antara kebutuhan produksi kue dan pemakaian keluarga sehari-hari. Tapi tentu kita akan tetap hitung ya. Contoh lainnya adalah biaya investasi peralatan yang tidak dimasukkan ke dalam perhitungan ini dengan pertimbangan kita memulai usaha kue ini paling tidak sudah memiliki peralatan “seadanya” untuk membuat kue andalan kita itu… Yuk kita mulai.

1. Bagaimana Caranya Menghitung Biaya Produksi Kue?

Yang pasti, kalau jualan tentunya kita gak mau rugi kan? Supaya gak rugi, maka seluruh pengeluaran yang kita lakukan harus terbayar oleh harga jual kue kita.

Apa saja pengeluaran kita?
1. Bahan Baku Kue + kemasan
2. Biaya operasional : Listrik, Gas, Air
3. Biaya tenaga kerja yaitu kita sendiri dan asisten bila ada

Ketiga hal di atas adalah biaya langsung produksi yang pasti akan kita keluarkan tiap kali kita membuat kue untuk dijual. Biaya lainnya yang bisa dianggarkan adalah:
1. Biaya resiko
2. Biaya marketing
3. Biaya fluktuasi kenaikan harga barang baku.

Yang paling jelas perhitungannya adalah nomor 1, yaitu bahan baku kue + kemasan.

Baca Juga:  Berbagi Pengalaman Serunya Berjualan Kue

Gampangnya adalah dengan menghitung jumlah biaya yang dikeluarkan untuk bahan yang digunakan untuk membuat kue per satu resep. Dan satu resep ini harus diketahui akan menghasilkan berapa banyak kue untuk bisa menghitung jumlah kemasan dan untuk menentukan harga jual per satuan kue nantinya setelah semua hitungan kita lengkap.

Contoh menetapkan harga jual kue, kita akan menghitung biaya pembuatan satu resep Pennylane Brownies, silakan lihat resepnya, di situ ada gula, terigu, minyak, dst. Contoh menghitung sederhananya:

  • Karena gula biasanya dijual kiloan maka cara menghitungnya 360gram/1000gram dikali harga gula sekilo = (360/1000) x Rp10000 = Rp 3600
  • Minyak dijual per liter, tinggal bagi 225/1000 x harga minyak seliter
  • Telur 4 butir bagaimana menghitungnya? Lihat saja dalam satu kg ukuran sedang biasanya dapat berapa butir? Katakan satu kg ukuran sedang ada sekitar 14 butir seharga Rp 15.000. Jadi harga satu telurnya = Rp 15.000 dibagi 14 = Β Rp 1072
  • Teruskan hitung sampai selesai satu resep maka akan didapatkan total biaya bahan.
  • Satu resep bisa jadi 2 ukuran 30×10, berarti mesti beli kotak ukuran 30×10. Masukkan lagi biaya tersebut.

Dari hitungan di atas, kita temukan total biaya bahan baku + kemasan Pennylane Brownies. Untuk perhitungan biaya lainnya, kita bisa gunakan persentasenya saja, contohnya:

  1. Biaya Operasional (gas,listrik,air) : 20% dari Bahan Baku
  2. Tenaga kerja : 25% dari Bahan Baku
  3. Biaya Resiko : 10% dari Bahan Baku
  4. Biaya Marketing % dari Bahan Baku
  5. Fluktuasi harga barang : 5% dari Bahan Baku)
  6. Keuntungan : Terserrahhh … oke deh 100% dari Bahan Baku

Kita bahas ya kenapa 1-6 ini mesti dihitung juga.

No.1 : Biaya operasional ini memang agak rempong menghitungnya karena penggunaannya masih bergabung dengan penggunaan rumah tangga. Jadi cuma bisa dibuat persentase saja. Nanti kalau usahamu sudah besar, nak, maka biaya operasional ini akan jadi satu pos tersendiri yang kamu akan cenut-cenut memikirkan cara menghematnya di kemudian hari πŸ˜‰

No.2 : Biarpun kamu mengerjakan sendiri kue yang kamu jual, kamu tetap harus menghitung biaya tenaga kerja. Sehingga nanti kalau pun usahamu sudah mengharuskan kamu memiliki satu atau dua asisten, maka sudah ada pos biayanya.

Baca Juga:  Tips Sederhana Memodifikasi Resep Kue Untuk Newbie

No.3 : Biaya resiko ini bisa dihilangkan kalau misalnya kamu jualan kue dengan sistem Pre-Order atau PO. Jadi kamu bisa memastikan tidak akan ada kue yang tidak terjual, karena kamu sudah tahu persis jumlah kue yang harus dibuat. Tapi kalau kamu jualan kue dengan ada resiko kue yang tidak laku hari itu, maka ada baiknya kamu masukkan persentase Resiko ini kedalam perhitungan.

No.4 : Ini juga bisa tidak dimasukkan kalau kamu merasa untuk setahun ke depan kamu gak perlu hire Selebgram untuk endorse kue jualan kamu, hehehe. Atau kamu tidak merasa perlu menghitung kue-kue sampel yang kamu buat dan bagikan ke teman, tetangga, sodara-sodara sebagai biaya marketing. Saranku sih, kalau kue sampel ini rutin dibuat dan dibagikan, maka harus dimasukkan ke dalam komponen biaya.

No.5 : Fluktuasi harga barang terutama terjadi menjelang Hari Besar. Telur meroket, gula menanjak, itu sudah jadi suatu keniscayaan. Jadi siapkan biayanya ya supaya kamu tidak perlu menaikkan harga kue tiap kali Hari Besar tiba.

No.6 : Setelah semua persentase diatas dimasukkan, maka kamu sudah boleh menentukan berapa profit yang kamu inginkan untuk kue yang kamu jual. Berapa pun persentase keuntungan yang kamu inginkan, Halal kok.

2. Bagaimana Menghitung Harga Jual Kue yang layak?

Sudah dapat total biaya produksi, dan sudah menetapkan berapa profit yang kita inginkan. Lalu setelah itu kita biasanya akan bertanya-tanya, harga jual kue kita kemahalan gak yah? Mesti cek harga kue tetangga sebelah gak ya?

Jawabannya adalah tidak perlu cek harga tetangga sebelah, apalagi cek harga di penjual kue Subuh. Kue yang kita buat adalah kue homemade. Bila memang kue kita enak, orang akan bersedia membeli. Apalagi kalau kue homemade buatan kita itu memiliki kelebihan tersendiri, misalnya dibuat dengan bahan-bahan organik, tanpa pengawet dan selalu baru karena dibuat berdasarkan pesanan.

Tapi kalau memang produk kue buatan kita kategori kue sejuta umat, misalnya jualan kue brownies, boleh-boleh saja untuk cek produk sejenis. Jangan patah semangat dulu kalau kue tetangga harganya murah banget. Bisa jadi bahannya gak premium atau dia sudah punya langganan pemasok bahan baku kue yang lebih murah. Kelemahan kue-kue homemade biasanya memang di harga bahan baku. Karena jumlah produksi kita tidak terlalu banyak, jadi misalnya gak bisa beli ribuan butir atau puluhan kilo.

Baca Juga:  8 Macam Butter Untuk Berbagai Masakan

Aku sih gak mau perang harga, karena perang harga itu capek, jendral! Lebih baik perbaiki ekspektasi pelanggan saja. Misalnya rasa. Atau kemasan. Atau fitur dari kue, misalnya topping Kitkat akan lebih wow di mata pelanggan daripada misalnya panggang biasa.

Pengalaman membuktikan kalau penggemar kue enak itu selalu kembali ke rasa yang dulu pernah ada… hehehe. Artinya kalau kue kita enak, pelanggan suka, walau kue sejuta umat tetap saja pelanggan akan terkenang rasa enak kue kita dan kembali order. Apalagi sudah yakin kalau bahan-bahan yang kita pakai memang bahan yang baik dan halal. Ini salah satu contoh value added menjual kue yang kita buat sendiri ya.

Baiklah, mudah-mudahan sharing ini bermanfaat dan tetap semangat yaah!!

A Blogger, Lazy Gardener and Baking-Blues Baker ^_^

Sudah Baca Yang Ini?

62 Comments

Saran? Pertanyaan? or just say hi? Leave your comment yaah ^_^

%d bloggers like this: