Pernah gak kamu pulang kerja rasanya kepala penuh, chat belum dibalas, to-do list masih kebayang, dan badan capek pengen istirahat tapi pikiran rasanya masih kusut. Scroll media sosial malah kadang bikin makin overthinking. Yak, kamu butuh sesuatu untuk menenangkan lagi pikiran dan jiwa-mu. Kalau kamu lagi cari cara “waras” yang produktif, mungkin ini saatnya kenalan lebih dekat dengan baking — bukan cuma sebagai hobi, tapi sebagai bentuk self-care.
1. Baking Itu Mindfulness Tanpa Kamu Sadar

Pikiran yang terasa kusut dan ruwet itu butuh diurai. Kamu butuh suasana tenang dan fokus tapi tetap produktif. Baking adalah salah satu aktivitas yang memenuhi syarat ini lho. Saat baking, kamu fokus pada aktivitas bakingmu seperti menimbang bahan, mengaduk adonan, mengatur suhu oven dan memperhatikan tekstur dan aroma kue. Tanpa sadar, kamu sedang melatih mindfulness — yaitu kamu fokus pada apa yang kamu kerjakan dan benar-benar hadir dalam momennya.
Ini berbeda dengan pekerjaan rutinmu yang sering kali menuntut kamu untuk multitasking, baking memaksa kamu untuk bergerak pelan, mengikuti alur secara presisi. Ada ritme yang menenangkan. Suara mixer yang berputar dengan telur dan gula di dalamnya yang mulai berubah bentuk menjadi busa lembut, dan kemudian wangi butter dan vanila dari dalam oven mulai menguar memberikan rasa nyaman — semuanya seperti terapi kecil setelah hari yang panjang.
Di dunia kerjamu yang serba cepat, baking mengajarkan satu hal penting: tidak semua hal bisa dipercepat. Dan itu justru menenangkan.
2. Ada Rasa Kendali di Tengah Hidup yang Chaos
Usia produktif kerja adalah fase yang penuh transisi: karier, hubungan, keuangan, identitas diri. Banyak hal terasa di luar kendali. Tapi saat kamu baking, kamu punya kontrol sepenuhnya :
- Kamu yang mengatur bahan apa yang ingin kamu gunakan
- Kamu yang mengatur waktu saat proses bakingmu dimulai
- Kamu melihat seluruh prosesnya
- Dan kamu pula yang menikmati hasilnya
Melihat adonan berubah jadi kue matang itu memberi rasa pencapaian kecil yang nyata. Dan sering kali, justru pencapaian kecil seperti ini yang menjaga kesehatan mental kita tetap stabil.
3. Baking Mengajarkan Kamu Berdamai dengan Gagal
Tiap baker pasti pernah mengalami gagal. Kadang kue bantat. Kadang kue gosong. Kadang bentuknya nggak estetik seperti di postingan bakers idolamu di IG. Dan itu nggak apa-apa.
Baking melatih kamu untuk menerima bahwa kegagalan bukan akhir dunia. Kamu belajar melakukan evaluasi atas kegagalanmu tanpa drama. Belajar mencoba lagi tanpa menyalahkan diri sendiri. Ini latihan mental yang powerful banget — terutama di usia produktif yang penuh tekanan standar “harus sukses”.
Setiap kegagalan kecil di dapur adalah latihan resilien untuk hidup yang lebih besar.
4. Self-Care yang Produktif, Bukan Cuma Konsumtif
Self-care sering identik dengan belanja, spa, atau liburan mahal. Padahal self-care juga bisa berarti menciptakan sesuatu. Baking membuat kamu bisa menghasilkan karya nyata, bisa berbagi dengan keluarga atau teman, bisa mengurangi screen time sosmedmu yang bikin overthinking dan pastinya kamu bisa mengisi waktumu dengan aktivitas kreatif
Dan ada kebahagiaan unik ketika seseorang bilang, “Enak banget!” Itu validasi kecil yang hangatnya sampai ke hatimu, bukan yang instan seperti likes di media sosial.
5. Dari Me Time ke Growth Time
Awalnya mungkin cuma ingin melepas stres. Tapi lama-lama kamu mulai penasaran dengan resep baru yang terlihat yummy. Kamu mulai ingin memperbaiki hasil baking sebelumnya dan tertarik belajar teknik baru dan mungkin kamu akhirnya bisa membagikan karyamu di medsos.
Tanpa sadar, hobi ini berkembang. Bukan harus jadi bisnis. Tapi jadi ruang untuk bertumbuh.
Dan kamu akhirnya punya satu aktivitas yang murni untuk diri sendiri — bukan untuk KPI, bukan untuk validasi, bukan untuk tuntutan — itu mahal sekali nilainya.
6. Tips Memulai Baking sebagai Ritual Self-Care
Kalau kamu mau menjadikan baking sebagai bagian dari kesehatan mentalmu, maka perhatikan hal-hal ini :
- Jangan mulai dengan target sempurna
- Pilih waktu yang santai (misalnya weekend sore)
- Nikmati prosesnya, bukan cuma hasilnya
- Jangan bandingkan dengan orang lain
- Anggap dapur sebagai ruang amanmu. Tempat kamu boleh gagal, bereksperimen, dan pelan-pelan membangun kepercayaan diri.
Kita sering sibuk membangun karier dan masa depan sampai lupa membangun ketenangan batin. Baking mungkin terlihat sederhana. Tapi di balik tepung dan oven, ada ruang untuk bernapas, berpikir, dan berdamai dengan diri sendiri.
Jadi kali lain ketika kamu merasa lelah secara mental, mungkin bukan butuh pelarian. Mungkin kamu cuma butuh menyalakan oven — dan memberi waktu untuk dirimu sendiri ?
Discover more from Cakefever.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
