Raibnya Brownies Kami – season 2

ini terjadi sebenarnya sudah cukup lama. Tapi aku baru bisa menuliskan cerita lengkapnya sekarang sebab baru nemu resi perusahaan pengiriman barang yang sudah dua kali mengecewakan pelangganku dan merugikan kami sebagai bakul kue yang mengandalkan jasa pengiriman.

Tahun 2010 sebenarnya aku sudah pernah dikecewakan karena kue yang sampai di pelangganku tidak utuh. Cerita bisa dibaca di Raibnya Brownies Kami … dan ternyata di tahun 2012 ini aku lagi-lagi dikecewakan oleh perusahaan yang sama dengan modus yang sama, yaitu 2 box brownies yang sudah dikemas rapi dengan plastik segel dan kardus tebal, bisa-bisanya dipotong oleh oknum perusahaan ini  — itu sebabnya judul artikel ini : Raibnya Brownies kami Season 2

Jadi ceritanya begini. Koh Andre dari Klaten ingin memesan brownies dari Goldoven.com. Berbekal pengalamanku di tahun 2010 dimana kue brownies kami “dicuri” sebagian oleh oknum perusahaan itu, kami berusaha menolak permintaan ini.

Namun Koh Andre bersikeras dan kami pun menyetujui dengan syarat bahwa kami tidak bertanggungjawab atas kondisi kue yang nantinya akan diterima oleh Koh Andre. Karena Koh Andre menyetujui persyaratan kami, maka kami pun mempersiapkan packing yang kami harapkan bisa lebih menjaga kue tersebut dari tangan jahil.

Persiapan packing dimulai dengan membuat sendiri kotak dari karton tebal. Kotak ini dibuat seukuran dua box brownies ukuran 30×10 cm.

Setelah prakarya membuat box dari dus tebal yang dibuat pas seukuran box brownies, box brownies dimasukkan ke dalam plastik dan di-seal dengan mesin vacuum seal yang kami miliki. Harapan kami, meskipun nantinya packing dus kartonnya dibuka untuk diperiksa isinya, plastik seal ini akan menjaga brownies tetap tertutup rapat.

Tak lupa di sela-sela bagian dalam dus kami selipkan juga potongan kertas-kertas agar kotak brownies di dalam dus karton tebal ini tidak bergeser.

Dan terakhir kami bungkus dengan kertas putih tebal. Kami tahu kemungkinan besar bungkus paket kami ini akan tetap dibuka untuk pengecekan oleh pihak perusahaan pengiriman ini. Tapi kami tetap menuliskan di bagian luar keterangan mana yang bagian atas dan bagian bawah, jangan dibanting dan keterangan bahwa isi paket ini adalah Kue Brownies.

Kami membawa ke agen yang terdekat dan menjelaskan kepada petugas yang menerima bahwa ini adalah kue brownies. Kalau perlu dibuka dan diperiksa agar dilakukan di depan kami untuk memastikan kue kami tidak kurang sesuatu apapun. Tetapi petugas di agen tersebut tidak memeriksa paket kami, hanya menerima, menimbang, dan memberikan kami resi pengiriman. Dan kue pun sudah tidak lagi di tangan kami.

Baca Juga:  Antara Baking-Blue & Blogging-Blue

Dua hari kemudian, kami menerima SMS dari Koh Andre yang mengatakan kue brownies diterima dalam keadaan porak poranda … 🙁 Koh Andre mengirimkan dua foto kondisi Dark Choco Cherry dan Almond Melt Brownies kami yang beliau terima.

Kedua brownies plastik sealnya dirobek dan dilem ulang asal-asalan. Dan yang mengejutkan bagian tengah kue dipotong rapi. Di foto Dark Choco Cherry Brownies di atas, potongannya tidak terlalu terlihat karena kuenya memang berwarna hitam kelam. Tapi bisa diperhatikan di foto Almond Melt Brownies yang bertabur kacang almond di bawah ini, ada bagian kue yang hilang.

Dalam hatiku bertanya-tanya, apa yang menyebabkan orang melakukan hal ini? Ini kan “cuma” brownies biasa? Kue ini dengan sengaja dibuka kotaknya, dirobek plastik sealnya lalu kue tersebut dipotong dengan rapi di bagian agak ke tengah menyisakan potongan kecil di bagian ujung. Kedua brownies dipotong dengan cara yang sama! Kalau pengalaman pertama dulu di Raibnya Brownies Kami, kotak browniesnya terbelah di bagian bawah, maka kali ini kotak browniesnya mulus dan kuenya dipotong rapi. Dan kalau pengalaman pertama dulu, aku masih bisa tertawa-tawa, kali ini tidak ada senyum sedikit pun yang terkembang, yang tersisa hanya kegeraman.

Apakah ini prosedur pengecekan “Resmi” dari si perusahaan? Memotong kue tanpa izin? Ataukah ulah jahil petugas di salah satu lokasi pengiriman? apakah petugas jahil itu yang di dekat rumahku, atau yang di Klaten? Dan mengapa mereka melakukan perbuatan yang jelas-jelas akan terlihat oleh penerima dan pastinya akan menimbulkan kemarahan bagi si penerima? Bayangkan saja, kue yang dipercayakan untuk dikirimkan ke suatu alamat oleh perusahaan pengiriman terpercaya, dipotong begitu saja oleh petugasnya??

Aku masih terus geleng-geleng kepala tidak habis pikir, mengapa mereka “tega” melakukan hal ini? Apa yang mereka cari dalam dua kotak brownies yang penampilannya sangat biasa ini? Apakah mereka tidak pernah makan brownies? Ataukah mereka curiga aku selipkan narkoba di dalam browniesku? Kalau iya mau periksa, kenapa tidak dilakukan di depan mataku sendiri? Kenapa aksi ini dilakukan tanpa sepengetahuanku?

Terus terang karena pengalaman buruk di tahun 2010 aku sudah mengkhawatirkan hal ini akan terjadi. Itulah sebabnya aku membuat dokumentasi lengkap proses packing sebelum diantar ke agen perusahaan pengiriman ini. Aku tidak terlalu terkejut mendapati kekhawatiranku menjadi kenyataan. Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan cermat dan mendokumentasikan semua tahapan packing kue sehingga aku bisa membuktikan tidak ada kesalahan di pihak kami.


Akan tetapi tetap saja aku gusar dan bersedih hati ketika Koh Andre mengirimkan SMS yang menyatakan bahwa beliau akan mengirimkan kembali kue yang sudah porak poranda tersebut supaya kami bisa melihat betapa tidak sopannya perbuatan oknum perusahaan pengiriman tersebut dan juga karena Koh Andre tidak sudi untuk mengonsumsi makanan sisa.

Baca Juga:  Cara Membuat Kue Enak Tapi Sehat

Walaupun sedih, kami sangat mengerti dan memaklumi isi dari SMS Koh Andre, karena melihat fotonya, wajar saja kalau Koh Andre menjadi “geli” dan “jijik” untuk menyantap kue tersebut.

Dalam beberapa hari, kami pun menerima kue kami yang dikirimkan kembali dari Klaten. Aku menatap miris melihat makanan yang sudah tidak karuan lagi bentuknya. Sungguh mubazir. Bukan nilai uangnya yang membuatku hampir menitikkan airmata, karena kedua brownies itu “hanya” seharga 110 ribu saja. Tetapi aku merasa gusar melihat bagaimana “ulah” oknum perusahaan pengiriman yang tidak bertanggungjawab telah membuat makanan yang seharusnya dinikmati oleh Koh Andre dan keluarga dengan suka cita, kini kembali lagi ke hadapanku dengan bentuk yang semakin porak poranda. Sungguh mubazir makanan ini hanya menjadi sampah karena perbuatan oknum petugas perusahaan pengiriman yang tidak bertanggung jawab!

Bukan nilai brownies itu yang menjadi “kerugianku” sebagai seorang penjual. Karena itu walaupun koh Andre dan rekanku di memintaku untuk mengajukan komplain resmi ke perusahaan pengiriman tersebut, aku memang sengaja tidak mau mengajukan komplain resmi. Aku hanya menjawab, “Buat apa kita komplain ke perusahaan itu? Hanya untuk uang 110 ribu? Dan tidak ada jaminan bahwa kejadian ini tidak akan terjadi lagi?”

Tahun 2010 Aku dan mba Dessy sudah pernah mengalami hal ini dan kami mengajukan komplain resmi. Setelah “investigasi” yang dilakukan pihak perusahaan pengiriman, akhirnya mereka memberikan ganti rugi senilai kue yang kami jual. Ini email tertanggal 4 Agustus 2010:

Dear Ibu Dessy,

Bersama ini kami informasikan bahwa JNE telah melakukan penggantian untuk kiriman yang rusak diterima nomor 1407869970007 melalui transfer tanggal 02 Agustus 2010 ke Bank BCA xxx xxx sebesar Rp. 55.000,-.

Mohon form pembayaran klaim-pernyataan yang terlampir agar diisi dan dikirim kembali ke JNE. Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Best Regards,
Sari Octaviani
Backliner
Customer Service Departement

Hanya itu saja bentuk pertanggungjawaban mereka, seperti yang tertulis di RESI:

Klausula 8 ayat 3:
Nilai pertanggungjawaban JNE sesuai syarat dan kondisi pada klausula 8 ayat (1) di atas adalah dalam bentuk ganti rugi atas kerusakan atau kehilangan dokumen atau barang yang nilainya tidak melebihi 10 kali biaya kirim atau kesamaannya untuk kiriman tujuan dalam negeri Indonesia dan US$ 100.00 untuk kiriman tujuan diluar Indonesia, per-kiriman. Penentuan nilai pertanggung jawaban JNE ditetapkan dengan mempertimbangkan nilai dokumen atau barang penggantinya pada waktu dan tempat pengiriman, tanpa menghubungkannya dengan nilai komersial dan kerugian konsekuensi seperti yang diatur dalam klausula 8 ayat(2) di atas.

Baca Juga:  Raibnya Brownies Kami

Ya, perusahaan pengiriman yang telah dua kali mengecewakan kami dalam rentang waktu  2 tahun adalah JNE. Dalam 2 tahun, kami tidak melihat adanya perbaikan kualitas pengiriman barang oleh JNE, karena kami mengalami hal yang sama untuk jenis kue yang sama.

Tahun 2010, saat aku menuliskan kisah Raibnya Brownies Kami, aku tidak mencantumkan nama perusahaan tersebut. Tapi kali ini aku rasa sudah cukup menutup-nutupi nama perusahaan yang telah “merugikan” kami secara immateriil ini. Apalagi aku melihat JNE meluncurkan Program PESONA JNE yang menawarkan pembelian dan pengiriman makanan khas daerah yang dipesan langsung dari kota asalnya. Apakah JNE menjamin makanan yang dipesan melalui PESONA JNE ini tidak dicuwil, dicolek, atau dihilangkan sedikit bagiannya oleh  oknum petugas yang ada di lapangan?

Sungguh ironi buat kami, perusahaan online start-up di bidang kuliner yang mencoba merintis pengiriman kue melalui jasa JNE, ternyata harus mengalami hal yang tidak menyenangkan ini dua kali, dalam rentang waktu dua tahun, oleh perusahaan yang meluncurkan Program Pembelian dan Pengiriman Makanan yang dibeli langsung dari kota asalnya. Apakah mereka bisa menjamin bahwa kue yang dipesan melalui Programnya sendiri bisa sampai utuh di tangan pembelinya tanpa mengalami kekecewaan seperti yang dialami oleh pelanggan kami?

— TanyaSiapa —

 

Note: Terima kasih untuk Andreas Kho yang telah mengirimkan foto bukti penerimaan kue di Klaten dan pengertiannya atas kejadian ini.

 

Artikel Lainnya:

%d bloggers like this: