Ulat Hidup dalam Coklat Van Houten
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 31 Mei 2012. Sekitar seminggu sebelumnya, aku membeli coklat Fruit n Nuts merek Van Houten di Toko All Fresh yang berlokasi di pinggir jalan TB Simatupang. Setelah aku beli, aku menyimpan coklat tersebut di atas meja kerjaku di dalam kamar. Sengaja aku tidak masukkan ke dalam kulkas, karena memang niatku segera aku makan. Aku lebih suka menikmati coklat dalam suhu ruang, ketimbang langsung dari kulkas, karena keraas … susah gigitnya.
Dan di pagi yang cerah tanggal 31 Mei 2012 ini terjadilah peristiwa yang membuatku sampai saat menuliskan posting ini (12 Juli 2012) masiiihhh trauma dan gak berani membeli lagi coklat Van Houten Fruit n Nuts yang sebenarnya adalah coklat kesukaanku selama ini, hiks.
Di mobil, ketika macet seperti biasanya, aku merobek bagian ujung aluminium foil pembungkus coklat. Aku patahkan blok paling atas dari coklat dan aku nikmati. Tidak ada perbedaan rasa. Demikianlah, satu blok coklat sudah berpindah ke dalam perut. Ketika bermaksud untuk mematahkan blok kedua, mataku menangkap penampakan serat-serat halus di dalam bungkus coklat yang belum aku robek. Waah, jamuran nih coklat, demikian pikirku. Aku letakkan coklat di kursi dan memutuskan untuk memeriksa coklat sesampainya aku di kantor.
Di kantor, dengan disaksikan beberapa teman kantor, aku merobek bungkus coklat untuk melihat kondisi coklat yang aku duga jamuran tersebut. Dan yang terlihat adalah seperti pada gambar ini.
Huaaaah!! Temen-temen cewek langsung memekik geli sementara aku sendiri mematung melihat ulat gendut yang lincah bergerak-gerak di coklat yang barusan aku makan tadi!! Reaksi jijik dan geliku tampaknya agak lambat, tapi efeknya permanen!
Beberapa teman cowok yang memiliki lensa mini macro di gadgetnya langsung mengabadikan ulat hidup tersebut dengan gadgetnya masing-masing.

Terlihat permukaan coklat juga sudah ada bercak-bercak putih dan ada serat putih halus seperti serat yang dipersiapkan oleh si ulat untuk jadi kepompongnya. (Masya Allah, aku ngedit foto ini supaya bisa muat di blogku dengan bulu kuduk meremang dan perut mual karena geliii…)

Wah sebagai konsumen setia Van Houten, aku shocked dan butuh penjelasan lebih lanjut dari Van Houten. Tapi bingung ini mestinya ditanyakan kemana? Van Houten atau toko AllFreshnya ya? Mengingat di AllFresh kan banyak buah-buahan, apa iya ini ulat asalnya dari aneka produk buah-buahan yang ada di Allfresh? — gak tau –
Akhirnya aku memanfaatkan Social Media untuk mencari kontak Van Houten. Aku temukan akun twitter @VHLovers dan Facebook Fan Page Van Houten Indonesia. Lalu aku posting foto ulat di coklat dan meminta untuk dihubungi. Respon dari admin Facebook Fan Page Van Houten ternyata lebih cepat daripada yang di twitter.
Yang datang ke kantor untuk mengambil coklat yang berulat itu adalah dari pihak Nirwana Lestari sebagai distributor Van Houten di Indonesia. Ohya FYI Van Houten di Indonesia dibuat oleh PT Ceres, perusahaan yang juga membuat meises itu loh … Lokasinya di Bandung.
Karena coklat itu mau dibawa ke Bandung untuk investigasi, maka coklat yang tadinya sudah dilempar ke keranjang sampah akhirnya dipungut kembali minta tulung mas-mas OB di kantor.
Lalu coklat dibawa ke Bandung, dan aku menanti hasil investigasinya. Sekitar 2 minggu kemudian pak Edy dan pak Yuddy dari Nirwana Lestari yang in-charge untuk distribusi coklat Van Houten di Indonesia datang lagi ke kantorku untuk memberikan penjelasan.
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Adalah benar bahwa coklat yang aku beli tersebut terkontaminasi oleh ulat. Ulat tersebut yang pasti masuk ke dalam kemasan coklat bukan selama proses produksi.
Dalam proses pembuatan, coklat dicetak dalam keadaan cair dan panas. Demikian pula kacang sebelum dicampur ke dalam cairan coklat juga dioven dengan suhu tinggi. Kecil kemungkinan ada serangga yang masuk dan bertahan hidup di suhu yang panas seperti itu.
Kemungkinan besar ulat tersebut masuk ketika dalam proses distribusi atau penyimpanan. Tapi pihak Nirwana Lestari sendiri tidak bisa memastikan dimana tepatnya masuknya si ulat tersebut. Kemungkinan besar kemasan coklat yang terbuat dari lembaran aluminium foil tersebut ditusuk oleh semacam kutu sehingga berlubang. Dari lubang inilah jadi tempat masuknya serangga yang menyuntikkan telurnya ke dalam coklat.
Karena aku membeli coklat tersebut di AllFresh yang sebenarnya adalah toko buah, tim Nirwana Lestari juga melakukan pengecekan di lokasi display dan penyimpanan coklat. Menurut pak Edy, posisi buah dan beras (yang biasanya memiliki kutu) cukup jauh dari lokasi display coklat. Demikian juga penyimpanan di AllFresh sudah dipisahkan antara buah dan non-buah. Jadi memang tampaknya sulit diketahui secara pasti dimana tepatnya si ulat masuk.
Ulat yang aku temukan itu berwarna kehijauan dan terlihat gemuk lincah (hiiy!). Terdapat lubang-lubang di coklat dan remah-remah kering coklat. Kata pak Edy ulat hanya memakan lemak coklat, jadi yang terlihat remah-remah itu adalah bagian yang tidak dimakan coklat.
Serat-serat halus itu adalah bakal kepompong si ulat. Di coklat tersebut juga ada bekas kepompong ulat. Jadii kesimpulannya di dalam coklat itu sudah ada beberapa generasi ulat… ya ampunn! Langsung ada rasa-rasa geli pengen muntah dari dalam perutku kalo inget-inget bahwa ada bagian coklat yang sudah aku makan …
Dari Pak Edy menyarankan untuk meminum obat pencahar kalau aku kuatir ada bagian dari telur ulat yang termakan olehku. Karena menurut beliau, telur ulat atau ulat pun sebenarnya tidak tahan hidup di dalam tubuh manusia. Kecuali mungkin cacing ya pak? Dan juga lintah, seperti berita yang aku baca di detikhealth ini (hiiyy):
Sesak Napas 2 bulan karena ada lintah di tenggorokan
Pak Edy juga sharing pengalaman beliau menemukan ulat di coklat Toblerone (duh!). Ulat-ulat ini memang kemungkinan besar masuk melalui bagian kemasan coklat yang robek. Yang merobek kemasan coklat ini memang mungkin bukan ulatnya, tapi serangga lain yang memiliki kemampuan itu seperti kutu.
Jadi demikianlah penjelasan dari Pihak Nirwana Lestari mengenai ulat hidup yang aku temukan di coklat Van Houten Fruit n Nuts yang aku beli.
Dampaknya yang aku rasakan sekarang adalah tiap mau membeli coklat Van Houten muncul perasaan gak enak di perutku yang akhirnya membuatku membatalkan niatku membeli coklat. Dan bukan Van Houten saja, coklat apapun yang bentuknya batangan terbungkus aluminium foil merek apapun membuatku ragu untuk membelinya.
Ini yang aku bilang, reaksi jijiknya telat, efeknya permanen. Sehingga sewaktu dapat oleh-oleh coklat Van Houten lagi, aku berikan kepada teman-teman yang segera rebutan mengambil coklat. Sementara aku hanya diam mematung, berusaha mencoba mengatasi isi perut yang kok ya rasanya pengen keluar juga.
Pak Edy bilang coba mulai mengonsumsi coklat lagi dalam ukuran yang kecil untuk menghilangkan efek trauma ulat itu. Tapi masih belum berhasil sampai sekarang nih, pak. Saya masih kuatirrrr mau beli coklat batangan lagi. Sebagai Chocoholic, memiliki ketakutan mengonsumsi coklat itu adalah penderitaan, sodara-sodara!
Atau baiklah, mungkin aku memang harus membuat sendiri coklat-coklat yang ingin aku konsumsi ya. Gampang sih, tinggal beli coklat couverture, beli cetakan coklat, beli kacang kualitas premium dan kismisnya juga. Cairkan, cetak, dinginkan dan siap dimakan tanpa kuatir ketemu ulat hidup lagi! Home made memang is always the Best yaa!
Artikel lainnya:
Hanya saja membuat praline dari couverture ar...
Tapi ternyata tanggal 19 Maret pagi aku sudah...
Sudah lama aku ingin bisa membuat sosis sendi...
Kalau Blueberry cheese cake dibuat dalam loya...





