Resep Roti Lembut Mirip Bread Talk

Kebiasaanku kalau mampir ke Toko Bahan Kue selain membeli bahan-bahan untuk kebutuhan orderan kue, aku juga sering mencomoti bahan-bahan kue yang rencananya akan aku gunakan untuk mencoba resep-resep baru. Dalam hati sih mikirnya, ooh yaa aku mau coba bikin ini ah, bikin itu ah, kebetulan ada bahannya, beli aaah … Namun setelah itu karena kesibukan kantor meningkat, biasanya aku ya lupa deh dengan niat mencoba resep baru hehehe 😀

Di sini pentingnya memeriksa persediaan bahan kue secara berkala, karena tidak semua bahan kue itu bisa tahan lama di dalam lemari, sehingga harus dihabiskan sebelum tanggal kadaluarsanya. Nah hasil stock opnameku yang terakhir adalah menemukan sisa tepung komachi yang sudah dibuka dari plastik segelnya sejumlah kurang lebih 750 gram. Waduh, aku lupa ini tepung kapan aku beli dan aku teledor tidak menuliskan tanggal pembelian di bungkusnya. Akhirnya aku mengandalkan indra penciumanku, setelah endus-endus sana sini tampaknya bau tepungnya masih normal dan belum tengik. Wah harus segera ditindak-lanjuti nih daripada berakhir di tempat sampah!

Tepung Komachi ini adalah tepung gandum berprotein tinggi. Konon kabarnya kadar protein di tepung Komachi lebih tinggi daripada tepung roti lainnya yang banyak beredar di pasaran. Tepung dengan kadar protein yang tinggi berarti kadar glutennya juga tinggi yang artinya adonannya bisa semakin elastis dan kenyal dan hasil akhirnya adalah roti yang lembut dan mengembang.

Bahan Roti :

750 gram Tepung Komachi
250 gram Tepung Cakra
225 gram gula pasir
5 gram Bread improver (Aku pakai Baker’s Bonus)
22 gram ragi instan
50 gram Susu Full Cream bubuk
15 gram garam

200 ml ausu cair full cream
100 gram uning telur (± dari 6 butir telur)
350 ml Air Es (secukupnya) — akhirnya yang terpakai hanya 200 ml air es
200 gram Unsalted Butter

Bahan Olesan :

1 kuning telur, campur dengan sedikit madu

Cara Membuat Roti:

Campur adonan kering (tepung terigu, gula pasir, improver, ragi instant, dan susu bubuk full cream) di dalam wadah, aduk dengan whisk sampai semua bahan rata, lalu masukkan ke dalam mixer Bosch.

Masukkan susu cair, kuning telur, dan air es sedikit sedikit sampai secukupnya dulu (jangan langsung dituang semua air esnya). Air es itu bukan sekedar air dalam kulkas, tapi air yang dicampur es batu sehingga lebih dingin dari pada air yang cuma disimpan di kulkas. Penuangan air es dilakukan sedikit demi sedikit sambil memperhatikan kondisi adonan. Kalau terlihat sudah cukup lembab/lunak, tidak perlu dihabiskan semua air esnya. Air es menjadi pengontrol tekstur adonan karena aku tidak tahu persis kuning telur yang diminta itu sebenarnya 100 gram atau 6 kuning telur. Karena bila kebanyakan kuning telur, nanti adonannya terlalu lembut, apalagi kalau ditambah lagi kebanyakan air, adonannya bisa gagal 😀

Mixer adonan sampai menjadi 1/2 kalis. Setengah kalis ini maksudnya adalah adonannya sudah kelihatan tercampur rata, tapi memang belum mencapai bentuk tekstur liat yang bisa diregangkan sampai tipis.

Tambahkan butter dan garam. Sampai di tahap ini, adonanku terlihat lebih basah dibandingkan bila menggunakan resep roti mba Fatmah. Sempat degdegan juga karena dari awal sudah curiga kuning telurku kebanyakan.

Lalu adonan aku Mixer lagi hingga benar-benar kalis. Di tahap ini, untuk menjadi kalis dari 1/2 kalis butuh waktu pengulenan adonan dengan mikser Bosch selama 30 menit. Lama juga ya? Dan walaupun sudah kalis, adonannya masih tetap terlihat basah.

Tutup wadah dengan handuk basah, diamkan adonan selama 20 menit.

Kempiskan adonan dan potong menjadi masing-masing 40 gram. Bentuk adonan yang sudah dipotong-potong menjadi bentuk bulat, lalu diamkan lagi sekitar 30-60 menit sampai mengembang dengan maksimal. Setelah mengembang adonan roti ini menjadi sangat lembut dan aku masih belum mengerti kenapa kok susah membuat tampilan rotinya menjadi licin. Seperti terlihat di bawah, permukaan roti terlihat keriput-keriput seperti ada selulitnya … hihihi 😀

Bentuk adonan yang sudah benar-benar mengembang menjadi agak lonjong, lalu oles dengan bahan olesan. Kemudian panggang di oven yang bersuhu 170 derajat celcius selama 15 menit. Aku mengisikan selai coklat ke dalam adonan dan dimasukkan ke loyang springform untuk dijadikan roti sobek. Lalu aku olesi dengan kuning telur dicampur sedikit susu. Rotiku setelah diisi selai cokat, diolesi telur campur susu trus dipanggang. Dan pas manggang aku tinggal sebentar karena ada tamu, baru teringat ketika tercium wangi roti matang. Lari ke oven, jiaaah telat ngangkat niih! Olesan telur di toppingnya udah keburu menyoklat dan rada mengeras gituuu …

Ketika roti sudah matang angkat dan dinginkan roti.

Tapi setelah digigit, waduuuh rotinya beneran lembuttt. Adonan mentah roti yang saat  mengembang sudah terasa sangat lembut membuktikan hasil akhir dari roti ini memang sangat lembut.

Perhatikan serat-serat roti yang terlihat. Terlihat beda dengan serat Roti Boy Wanna-Be yang lebih pendek dan padat. Apakah itu pengaruh dari penggunaan tepung Komachi? — serius nanya 😀

Dan saking lembutnya ini roti, langsung ludes seketika sehingga aku tidak bisa mengetahui apakah roti ini tetap mempertahankan keempukannya sampai keesokan harinya. Mungkin besok-besok kalau nyoba bikin lagi aku sisain sepotong untuk dicek berapa lama rotinya bisa tetap empuk.

Hanya saja untuk percobaan kali ini aku masih gagal membuat permukaan roti saat dibentuk menjadi licin sempurna … hhrrghh itu kenapa yaa??

Untuk tips-tips pembuatan roti empuk bisa dibaca di sini ya …

Artikel Lainnya:

%d bloggers like this: